Monday, April 16, 2012

Keinginan Terakhir


Keinginan Terakhir
By Cinintya Listianti
Backsound : Rod Steward – Sometimes When We Touch (1982)


“Cinintya... nanti kalau kamu sudah besar... mau jadi apa, Sayang?”
“Saya mau jadi arsitek, Bu Guru!”
“Arsitek? Kok kamu tidak ingin menjadi seorang dokter seperti teman-temanmu yang lain?”
“Karena saya mau merancang rumah saya sendiri, Bu... jadi arsitek itu gajinya lumayan buat saya... terus, saya ‘kan anak perempuan... jadi saya bisa mengerjakan proyek tanpa harus tergesa-gesa, Bu...”
“..............................”

                Itu adalah sepenggal percakapan yang kulakukan dengan ibu guru di depan kelas saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah mendengar perkataanku, beliau hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala karena tak menduga bahwa aku akan menjawabnya seperti itu. Lantas aku sendiri berjalan menuju tempat dudukku dengan diiringi pandangan teman-teman. Pelajaran yang kami terima dari ibu guru di hari itu memang bertemakan cita-cita di masa depan, namun pasti tidak serumit dengan apa yang sudah kubayangkan. Semuanya benar-benar terasa membingungkan. Ternyata pemikiranku terlampau dewasa pada waktu itu.
                Sebenarnya, sudah lama sekali aku memendam bakat seni semenjak aku masih kanak-kanak. Ketika teman-teman sedang asyik memainkan dirinya diatas ayunan, atau membuat istana megah dengan media pasir; aku justru sibuk menyendiri dan menggenggam krayon warna diatas buku gambarku. Tidak tanggung-tanggung, aku terus saja duduk di bangku kelas --- hingga tak terasa ibu guru sudah memandangi sejak tadi. Aku terlalu cinta pada krayonku. Alhasil, beliau memperbolehkanku membawa krayon milik sekolah untuk kugunakan di rumah.
                Ayah dan Ibu memang memiliki darah seni yang tinggi. Mereka berdua sangat pandai dalam melukis, bernyanyi, menentukan selera musik, menggambar relief... bahkan sampai pada urusan merangkai kata. Saat masih remaja, Ayah dan Ibu adalah pasangan yang paling populer di kampus karena keistimewaan yang dimiliki oleh keduanya. Menulis puisi. Tak heran apabila aku selalu menyukai seni. Termasuk dalam dunia menulis. Di sekolah pun aku mempunyai hobi tersendiri --- membuatkan denah rumah untuk dijadikan arena bermain teman-temanku. Hanya dari selembar kertas yang sudah ku gambar, kami bisa memainkan penghapus, tutup pulpen, atau semacamnya sebagai simulasi. Bermain orang-orangan.
                Aku masih ingat tentang satu hari dimana seorang teman belajarku, Shanti, menuju ke rumahku dengan membawa sekotak krayon pastel dan sebuah buku gambar berukuran A3. Kami memang sudah berjanji satu sama lain saat di sekolah, kalau dia akan main ke rumahku. Tapi pada saat ia tiba di depan rumah, Ibu melarangku untuk bermain karena nenekku sedang tidur siang. Takut terganggu. Akhirnya, aku terpaksa menyuruh teman baikku pulang dengan wajah yang sayu. Padahal kami sudah bersemangat untuk itu. Gimana bisa jadi arsitek kalo gak bisa ngegambar terus... gak pernah punya kesempatan buat ngegambar, pikirku. Tapi aku tahu memang bukan kesalahan Ibu untuk melarang. Lucunya, Ibu justru berkata bahwa aku lebih berbakat menjadi seorang desainer. Mungkin karena Ibu pernah melihatku menggambar sketsa baju. Ya, penilaian objektif seperti beliau yang berpendidikan psikologi memang lain. Tapi bagi seorang anak polos sepertiku tetap saja ingin jadi arsitek. Sekali arsitek, tetap arsitek.
                Gambar dan tulisan merupakan suatu paduan yang misterius untuk dijelaskan. Pada dasarnya, semua orang bisa mengekspresikan dirinya melalui suatu bidang, terlebih lagi sepertiku yang tak pernah bisa diam dan selalu aktif mengerjakan apapun yang ingin kuciptakan. Aku tidak tahu mengapa aku selalu ingin menjadi seorang arsitek yang handal; sejak aku melihat beberapa foto dalam sebuah majalah arsitektur milik ayahku yang tergeletak diatas meja. Kau tahu? Tidak banyak wanita yang bisa menjadi seorang arsitek, karena biasanya profesi itu digeluti oleh kaum lelaki. Oleh sebab itulah, aku selalu menaruh tekad yang besar untuk meraihnya.
                Ketika memasuki usia 14 tahun, aku mulai mengasah kemampuan desainku dalam aplikasi komputer. Memang hasilnya tidak seberapa, tapi dengan mencobanya, itu sudah menandakan awal yang bagus. Semakin sering aku mendesain, Ayah dan Ibu semakin mendukung; meski pada mulanya mereka menginginkanku menjadi seorang dokter. Selain itu aku juga tetap berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, yang terkadang disertakan dalam lomba antar sekolah.
                Hingga saat menginjak masa-masa remaja, aku masih berpegangan pada komitmen yang sudah ku bentuk sekian tahun lalu. Prestasi yang kian meninggi, namun terselubung oleh kesedihanku setelah kepergian Ibu ke dalam pelukan Tuhan. Masih meniti perlahan dan terasa sangat berat, karena impianku takkan pernah bisa dirasakan lagi olehnya suatu hari nanti. Akan tetapi, semasa hidupnya, beliau tak pernah meragukan keputusan apapun yang akan ku pilih. Jadi, untuk masalah penjurusan, aku langsung memilih bergelut di bidang sains.
           Namun pada suatu hari, aku berkenalan dengan seorang teman di sebuah koridor sekolah saat jam istirahat telah tiba...

“Hai, Cinin...” sapanya ceria seraya melambaikan tangan dari kejauhan.
“Oh, hai juga... eh maaf... kamu siapa, ya? Kok kamu tau namaku?” kataku keheranan.
“Kenalin, namaku Amy... anak kelas 10-3... iya aku tahulah, kamu anak yang mau jadi arsitek itu, ya? Aku denger banyak hal tentang kamu dari temen-temen,” katanya bersemangat sambil menjabat tanganku.
“Oh gitu, ya? Hehehe... nggak juga, sih... sekarang lagi usaha,” kataku merendah.
“Hehehe... baguslah, Cin. Aku do’ain semoga kamu bisa jadi arsitek sungguhan,” ia menyeringai.
“Amien... makasih yah. Oh iya by the way, kamu sendiri nanti mau jadi apa?”
“Aku mau jadi pengusaha, Cin. Tapi tetap lihat kondisinya nanti gimana,”
“Pengusaha apa?” kataku dengan sarat pemikiran yang selalu saja ingin tahu.
“Yaa.. jadi pengusaha apa ajah. Meskipun jadi pengusaha sampah sekalipun. Yang penting jadi pengusaha...” ia menjelaskan.
“Wow... bagus juga tuh. Semoga berhasil, ya!”
“Iya, Cin... makasih... oh iya aku mau masuk kelas dulu yaa... sampai ketemu lagi!”
“Ok daaaghh...” kataku dengan diiringi senyuman lebar...

17 tahun sudah terlewati, dan kini tibalah saatnya penentuanku. Ambisi yang sudah tertanam sejak kecil, kini nampak di depan mata. Setelah ujian akhir sekolah usai, aku langsung mencari informasi tentang dunia arsitektur sebanyak mungkin, tanpa kenal lelah dan waktu. Tiap malam selalu menatap layar monitor sambil ditemani alunan musik jazz sebangsa Al Jarreau, Phil Collins, Peter Cetera, George Duke... sampai Brian McKnight sekalipun! Ayah hanya memerhatikan tingkahku sambil berpesan, “Ada baiknya kalo kamu juga fokus dengan jurusan yang lain, siapa tau kamu berubah pikiran,” mendengar itu aku hanya tersenyum, menyetujui perkataannya.
Tiga hari setelah itu, aku dipanggil oleh guru konseling ke ruangan BP karena mendapat beberapa panggilan dari 3 universitas swasta yang bergengsi. Semua guru yang ada di ruangan tersebut begitu antusias mendengarnya, sedangkan aku sendiri tak tahu mengapa namaku tercantum di dalam 3 amplop putih itu. “Perasaan... aku belum pernah mendaftarkan diri ke universitas manapun, deh. Tapi kenapa malah aku yang dapet panggilan?” benakku sambil mengernyitkan dahi di ruang konseling. Mau tidak mau aku hanya mengiyakan nasihat dari guru-guruku, dan membawa seluruh amplop ini pulang ke rumah.

Sekolah Tinggi Manajemen Transport TRISAKTI, Logistik.
Universitas Gunadarma, Psikologi.

Dan yang terakhir...

Institut Sains & Teknologi Nasional (ISTN), Teknik : Arsitektur.

Tiga amplop itu ku buka lebar-lebar diatas meja belajar. Logistik... berarti kalo jadi pramugari, aku harus rela ninggalin keluarga saat bertugas. Psikologi... dulu Ibu pernah bilang kalo jadi psikolog itu gak mudah. Gimana kalo aku ambil ISTN aja? Arsitektur kan’ impianku. Tapi masa’ langsung nyerah gitu aja sama keadaan. Kenapa gak nyoba universitas negeri dulu? Kenapa? Kenapa??
Kemudian ku tutup semua amplop dengan menunggu informasi baru esok hari.

Sekitar pukul dua belas siang, Adam - teman belajarku yang juga menyandang status Ketua OSIS itu sedang memegangi map berisi formulir dan sejumlah legalisir ijazah. Dia menghampiriku sambil menawarkan formulir.

“Cin, ikutan yok. Barusan gue dapet formulir PMDK dari IPB... Gue pengen masuk sana ah,” katanya sambil sibuk mengisi formulir.
“Hah, IPB? Kok bisa? Emang kamu mau masuk jurusan apa, Dam?” kataku menyelidik.
“Gue mao masuk jurusan Gizi. Disini bisa ngisi jurusan buat S1 sama D3 dalam satu formulir,”
“Aku sih sebenernya mau ajah, Dam. Tapi kan’ kamu tau ayahku orangnya kayak gimana. Mana mungkin aku dibolehin kuliah jauh-jauh di Bogor? Di Jakarta aja aku masih bingung mau masuk mana...”
“Yah, kalo masalahnya gitu mah gue angkat tangan dah. Tapi daripada kuliah di tempat yang lebih jauh, kan’ masih mending di IPB. Coba deh diomongin dulu sama bokap...” tuturnya.
“Iya deh, aku pikir-pikir dulu. Makasih, Dam...”

Setelah itu kusimpan penawaran formulir itu ke dalam tas ransel. Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah, aku merenung. Kira-kira apa yaa pendapatnya Bapak kalo tau aku mau daftar di IPB? Dimarahin gak kira-kira. Tapi katanya si Adam tuh bener juga. Daripada aku kuliah lebih jauh lagi, yang ada nanti Bapak malah susah ngontrol keadaanku. Ah, nanti nyoba nyari universitas negeri di Jakarta dulu deh...
Malam harinya aku masih menunggu ayahku pulang dari kantor. Akhirnya, suara mobil sedan keren milik Ayah terdengar riuh dibalik jendela kamarku. Yeah, it’s show time. Aku tahu Ayah pasti sangat lelah karena habis meeting, jadi aku pun tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera membahas lembaran masa depan itu.
Tapi, bukan Ayahku namanya kalau tidak bertanya tentang keadaanku hari ini.

“Gimana, Nduk. Kamu udah dapet informasi darimana aja tadi siang? Bapak mau liat sejauh mana perkembanganmu tadi...”
“Hmm... Tya dapet satu formulir lagi, Pak. Tapi jangan kaget, yah. Ini dari IPB,” kataku mencoba setenang mungkin sambil mengaduk secangkir teh hangat.
“Dari IPB? Jauh amat? Nanti kamu tinggal sama siapa kalo kamu kuliah disana, hah? Kamu kan’ gak mungkin pulang pergi tiap hari kalo lagi kuliah...”
“Hmm... Bapak akan ngasih izin Tya nggak, kalo Tya belajar nge-kost?” kataku polos.
“Emangnya kamu bisa? Kenapa kamu gak tinggal di rumahnya Bude’ Bambang ajah? Kamu takut ngerepotin ya, kalo tinggal disana?” ... dan firasat beliau memang selalu benar.
“Hehehe... inggih, Pak. Lagian, daripada Tya mesti kuliah ke Bandung, pasti Bapak gak bakalan ridho, kan?”
“Ya sudah, coba liat dulu, ada jurusan apa aja disana. Teknik Arsitektur-nya ada nggak?” tutur beliau. Kataku dalam hati : Yeeeesss! Akhirnya Bapak ngasih izin juga!
“S1 Arsitektur Lansekap. Menurut Bapak, jurusan lain yang bagus tuh apa yah?”
“Hmm. Disini ada jurusan Agribisnis. Kamu pilih itu aja. Kalo D3, lebih baik kamu isi dengan jurusan Manajemen Agribisnis. Prediksi untuk 5 tahun ke depan, kamu akan dibutuhkan banyak orang nantinya,” kata Ayah dengan segudang ilmu ekonominya.
“Agribisnis? Tapi Tya belum tau banyak hal mengenai itu, Pak...”
“Kalo gitu kamu cari tau dulu, sementara nunggu kamu masih mau daftar di UI dan UNJ...”
“Nggih, Pak...”

Dari percakapan yang demokratis itulah, aku mulai mencari literatur di situs internet dan membuka pikiran pada jurusan yang namanya Agribisnis itu.

Agribusiness, Bogor Agricultural University.

Jurusan yang aneh. Mendengarnya saja pun aku tidak pernah. Tapi berhasil membuatku penasaran. Setidaknya masih berkaitan dengan dunia bisnis, barangkali. Sejenak kulupakan arsitektur dan berputar 180 derajat untuk menggeluti bisnis pertanian tersebut. Terus terang, mendengar kata IPB saja aku sudah merinding. Karena selain keberadaannya cukup jauh, aku juga akan belajar hidup mandiri tanpa ada pengawasan dari orang tua. Dan, dunia pertanian itu tidak pernah melintasi pemikiranku selama aku hidup. Jadi, bagaimana aku bisa menguasai bidang tersebut, kalau aku tidak pernah tahu.

Setelah sekian lama mencari, perhatianku teralihkan pada beberapa kasus mengenai pertanian yang terjadi di Indonesia, dan ini kenyataannya :

1.       Petani itu selalu hidup prihatin, meskipun mereka memiliki lahan yang kaya.
2.    Jika mereka sedang gagal panen, mereka terpaksa hidup sementara dengan menyantap sepiring nasi per hari. Bagi mereka, kebutuhan keluarga & anak-anak adalah prioritas utama.
3.     Petani kaya memang ada, tapi petani miskin lebih banyak jumlahnya.
4.     Kita sebagai orang awam hanya mengerti bila ingin memasak nasi, kita harus membeli dan mengolah beras.
      Tapi untuk menjaga kualitas, mereka benar-benar mempertahankan.
5.     Terkadang keberadaan petani di Indonesia kurang dihargai. Padahal, tanpa usaha mereka untuk mengolah lahan, kita belum tentu bisa makan nasi.

Bergidik bulu roma ku.
Kok bisa ya? Apalagi pada saat kuperhatikan foto-foto dan sejumlah peristiwa mengerikan pada para petani di negara kita. Sungguh ironis memang, dan ini bukan sekedar bicara. Apakah ini pertanda bahwa aku mulai tertarik dengan dunia yang baru ini, dan menganggapnya sebagai rencana kedua?
Aku mencoba pahami hal itu, dengan perasaan yang tak karuan.

Seminggu kemudian...
Kulihat Adam dan teman-temanku sedang berlari kegirangan seraya berteriak padaku :

“Cin! Lo diterima di IPB! Jurusan Manajemen Agribisnis! Noh kalo gak percaya liat aja di mading deket ruangan BP... Gue juga keterima disana... Jurusan Gizi D3!!!” katanya sambil tak mempedulikan kami yang lagi melongo sedari tadi.
“Ah yang bener, Dam?! Trus siapa lagi yang keterima?!” kataku menegang.
“Banyak kok, si Dhama juga dapet di Teknik Lingkungan... Makanya buruan liat gih,”

Lalu ada seorang temanku yang membawa secarik kertas pengumuman dan berdiri di depan kelas. Membacakan isinya. Ternyata namaku juga disebutkan, dan seketika itu juga teman-teman memelukku. Tapi aku justru berpaling dan meninggalkan kelas, dengan keraguan yang memuncak...

Sesampainya di rumah, aku menyerahkan berkas penerimaan mahasiswa IPB pada ayahku. Kami berdua tenggelam dalam hening malam itu --- di antara rasa syukur dan keputusan yang harus ku ambil. Aku memandangi 2 amplop diatas meja makan, dengan perasaan tertekan. Arsitektur ISTN, atau Manajemen Agribisnis IPB. Ayah pasti tahu betul seberapa besarnya guncangan yang kurasakan sekarang. Oleh karenanya beliau hanya menepuk pundakku dan berkata :
“Sekarang kamu minta petunjuk sama Allah. Ini masa depanmu. Kemarin kamu udah nolak masuk UI demi meringankan Bapak biar gak bayar terlalu mahal. Tapi kalo menurut Bapak, usahakan pilih negeri, sebelum ke swasta...”
Nggih, Pak. Tya mau shalat istikharah dulu...”

***

“Ya Rabb... bagaimana caranya agar aku bisa memutuskan. Aku sangat membutuhkan keduanya. Jika takdirku sudah kau tentukan dengan impian yang ku tanam sampai hari ini, maka teguhkanlah hati dan pilihanku. Namun bila impianku bukan yang terbaik bagimu, maka permudahlah aku untuk melepasnya...”
“Ya Rabb... aku tahu, ambisiku memenuhi apa yang kau kehendaki. Namun salahkah bila kusesali sejenak, segala usaha yang telah ku gapai dengan semangatku. Kini aku hanya berusaha mengartikan dan mengobati. Tapi percayalah, sekuat apapun petunjuk yang kau beri, ku jalani meski jalannya berliku dan terjal...”
“Ya Rabb... jikalau kebahagiaanku kau letakkan pada jalan yang lain, maka jadikanlah itu sebagai sumber kebahagiaanku yang sejati. Kau Maha Tahu, aku juga menanggung harapan dari keluarga dan banyak orang. Jangan sampai pilihanku membuat semua orang bersedih, hanya karena ku tak mampu melaluinya. Izinkanlah aku menyelesaikan semua urusanku, sebelum aku siap menghadapi kenyataannya...”

Air mataku telah membasahi sujudku. Lama sekali ku meminta. Ketika sudah merasa cukup tenang, aku mulai bangkit dan berjalan menuju meja makan. Kemudian, amplop impianku segera kusingkirkan dan hanya menyodorkan amplop yang berisi ucapan selamat tersebut pada ayahku.

“Pak, Tya udah bertekad untuk milih IPB aja. Nanti Tya pelajari lagi ilmunya, abis itu Tya nerusin ekstensi aja ke S1...” lirihku dengan mata yang sembab.
“Ya udah kalo gitu, kalo memang jalanmu disitu, dijalani aja gapapa. Toh Bapak masih punya rezeki buat nerusin kamu ke S1. Gapapa, Nduk...”

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekarang aku sudah menjadi mahasiswi Manajemen Agribisnis IPB. Awalnya memang terasa sulit dan asing, sehingga banyak waktu kugunakan untuk mengasah rasa keingintahuanku. Ya, meskipun aku tidak secerdas teman-teman belajarku atau berkutat dengan banyak buku, setidaknya aku banyak tahu. Aku jadi memahami betapa pertanian di Indonesia seharusnya lebih diutamakan dibandingkan nilai sebuah pembangunan. Untuk apa kita hidup serba mewah, tapi ketahanan pangannya mulai mengikis. Untuk apa pemerintah begitu lelah membangun jalan tol sedemikian luasnya, kalau rakyatnya sendiri masih kesulitan mencari kesejahteraan hidup. Sekarang, penilaian yang diberikan oleh negara lain terhadap keberhasilan negara kita bukan dilihat dari megahnya gedung-gedung bertingkat, media transportasi yang memadai, atau teknologi yang menembus pasar internasional. Tapi, sejauh mana negara kita berdedikasi terhadap kebutuhan hidup rakyat sehari-hari dan bagaimana cara pemerintah untuk mendidik agar rakyat bisa memiliki penghasilan lebih. Semua hal yang besar itu selalu dimulai dari hal-hal kecil. Kalau yang diperhatikan hanyalah yang tampak secara kasat mata saja, aku yakin hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat hasilnya tidak bagus, akibat yang dirasakan pun memengaruhi faktor yang lain. Contohnya? Korupsi.


Dari semua cerita diatas, aku hanya ingin menguatkan argumen bahwa banyak sekali orang yang mengalami hal sepertiku. Mungkin kami sebagai pelajar hanya mengikuti, walau terkadang mengikuti pelajaran dengan perasaan setengah hati. Seiring berjalannya waktu, yang selalu kupikirkan setiap hari adalah apa kontribusiku setelah lulus kuliah dan memegang gelar, apakah bergerak menjadi seorang perintis, eksekutif muda, atau memilih bekerja sebagai pegawai kantor biasa.
Lalu, aku jadi teringat perkataan temanku Amy saat masih sekolah dulu. Ternyata impiannya sudah menjadi jalan impian baruku. Dia sendiri justru masuk Fakultas Kehutanan UGM. Kemudian, Adam sudah menggeluti profesinya untuk menjadi calon koki handal di perhotelan. Yang terakhir, Shanti, teman belajarku yang berkacamata dengan rambut ikalnya bak bercita-cita menjadi seorang dokter, kini mengambil jurusan Arsitektur Interior UI. Tapi ada satu hal terpenting yang selalu kuingat dari perkataan adikku sendiri :

“Mbak, kalo emang Mbak udah gak bisa jadi arsitek, biar gue aja yang nerusin. Gue kan’ cowok. Ntar kalo misalnya gue mau bikin proyek, kita kerja sama aja. Mbak yang ngasih dana, gue yang bikinin rumahnya,” katanya dengan yakin. Padahal aku sendiri tidak yakin apakah dia mau meneruskan, karena dia masih labil. Tapi, idenya bisa dikatakan cukup brilian.

......................................................................................................................................................

Kini aku sadar betul, semua proses yang terjadi secara tidak sengaja itu akhirnya mengubah kepribadianku. Kalau saja aku ditakdirkan menjadi seorang arsitek, pasti aku akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi atau memandang permasalahan dari berbagai aspek, karena yang ku tahu hanyalah sejumlah penggaris besar dengan banyak bentuk, gulungan kertas denah yang berserakan, dengan gaya hidup yang monoton dan serba kaku. Memang, semua itu tergantung dari tipikal orang masing-masing. Tapi kalau bagi perempuan yang mudah bosan sepertiku, jalan tersebut bukanlah keputusan yang tepat.
Kedua, hal yang sering terlihat adalah caraku menjaga penampilan. Kali ini aku sudah bisa menjadi desainer untuk diriku sendiri. Dulu, aku bukanlah perempuan yang menyukai dunia mode. Jadul abis, kata temanku. Yah, setidaknya aku sudah berusaha menjaga dengan menggunakan pakaian yang pantas. Tapi kerap kali ku bertanya apakah pakaian yang kukenakan hari ini sudah layak atau belum, salah seorang temanku, Lisna --- hanya berucap, “Engga kok, Cinin pantes-pantes ajah kalo make baju. Aku sih seneng aja ngeliatnya,” ........... ckckck, padahal aku sendiri bingung dengan baju yang kukenakan.
Ketiga, meski cita-citaku masih bertengger untuk menjadi pengusaha dan penulis terkenal, aku masih punya harapan untuk bisa bermain-main di lahan perkebunan yang luas --- bercengkrama dengan petani kebun seraya menunggangi kuda putihku. Bahkan, aku masih memiliki keinginan terakhir untuk bisa menjadi seorang arsitek.
Ya, menjadi arsitek untuk membangun rumah impianku sendiri suatu saat nanti. ---

......................................................................................................................................................

Sekarang, aku menemukan banyak pendapat dari orang-orang terdekatku. Bahkan, aku jadi merasa geli sendiri saat mendengarnya, yang kuanggap bahwa hal itu sangat lucu. Coba kita simak :

“Cin... kamu tuh mendingan jadi pemerintah aja, deh. Udah pantes tadi gayamu pas berdebat kalo jadi menteri. Ibu dukung deh kalo kamu jadi menteri,” kata Bu Siti Masithoh, selaku dosen Sosiologi Industri IPB, yang pada saat itu bersalaman denganku ketika pulang kuliah.
“Hehehe... amien, Bu. Tapi saya gak mau jadi pemerintah deh, takut gak bisa megang amanah, Bu. Lagian, jadi pemerintah itu susah, gak segampang yang kita pikirin...” kataku sambil tersenyum kecut.
“Hahaha... tapi Ibu ngerasa kalo kamu tuh cocok, Cin... pokoknya jadi pemerintah itu harus bijaksana,” kata beliau tertawa.
“Hahaha... semoga aja bener yah, Bu...”

Baiklah, kali ini giliran para sahabatku Febri dan Ria yang mengutarakan pendapat saat kami masih duduk di bangku SMA :

“Cin, lo tau gak sih? Menurut gue, lo tuh gak cocok jadi arsitek. Lo tuh pantesnya jadi pejabat, pengacara, hakim... atau apalah namanya gue gak tau... pokoknya yang suka ngehakimin orang deh,” kata Ria mencelos.
“Eh buset?! Sadis bener dong aku kalo jadi hakim... mendingan gausah aja sekalian,” kataku tertawa geli.
“Heh Ria, lo tuh kalo ngomong jangan asal nyeplos aja woooy. Yaudah sih kalo Cinin maunya jadi arsitek. Emang maunya dia kaya gitu. Trus apa urusannya sama lo?” kata Febri berkomentar, seakan ingin adu argumen dengan si Ria.
“Yaaaa... okeeee... tapi itu menurut gue yaaah. Secara gitu Cin, gue akui lo emang jago ngomong. Hehehe...” katanya sambil mengangkat bahu.
“Udah, Nin... si Ria mah gausah didengerin,” kata Febri.
“Hahaha... gatau dah. Liat ntar aja deh! Hehehe...”

*Nah, kalau yang ini, pendapat dari tukang bakso langgananku saat masih kecil :

                “Pak Roni... masih inget sama saya, ‘ndak? Hehehe... kalo boleh, saya mau pesen bakso dua bungkus,” kataku dengan ceria, dan wajahnya langsung cerah karena melihatku sudah sebesar ini.
                “Lhoooo?! Ini beneran Mbak Tya?! Ya Allah Mbak... saya pangling’ ngeliatnya... opo kabare’, Mbak??!!...” katanya tersentak kaget seakan tak percaya, tertawa seraya bersalaman denganku.
                “Hahaha... alhamdulillah baik, Pak Roni... wah, baksonya makin laris aja, nggih...”
           “Inggih, Mbak... oh inggih, saya kok ‘ndak pernah ngeliat Mbak Tya yah... tau-tau udah gede ajah. Sekolah dimana sekarang Mbak??” ... dan kuperhatikan tangannya tidak menuangkan saus pada bakso pesananku. Berarti dia masih ingat betul kesukaanku.
              Dalem sekarang kuliah di Bogor, Pak... hehehe...”
“Wah, berarti kuliah di IPB nggih Mbak? Wiiih keren lho Mbak, anak saya aja susah mau masuk situ,” tuturnya.
Mboten ngertos, nggih. Mungkin rezekinya aja Pak, lagi dapet disitu... hehehe...” kataku.
“Tapi saya bangga Mbak jadinya. Yah pokoknya saya do’aken’ mugi-mugi Mbak bisa jadi pejabat... jadi menteri... biar bisa nyelametin hidup orang-orang kayak saya, Mbak...”
Nggih, Pak... maturnuwun... insya’Allah,” kataku sambil membayar dua bungkus bakso itu. Kuhampiri Ayah yang sedang menunggu di dalam mobil, dan melambaikan tangan pada tukang bakso kesayanganku itu.

...... Saudara-saudara, inilah bagian paling akhir. Kebetulan, sekitar hari Kamis malam pekan lalu : aku bertemu dengan tukang satai ayam langgananku di daerah Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Seperti biasa, Ayah selalu menunggu di dalam mobil dan mengawasiku dibalik jendela kaca :

“Bang Heri... apa kabarnya, Bang? Saya mau pesen sate ayam 20 tusuk yah! Hehehe...” kataku dengan berlari-lari kecil.
“Eh, ada Mbak Tya toh ternyata... hehehe... tumben nih baru keliatan, kemana aja Mbak? Trus kesini sama siapa??” katanya dengan senyum sumringah.
“Noh, sama Bapak. Hehehe... iya neh Bang, ini aja baru pulang dari terminal. Lagi kepengen sate aja nih,”
“Oh hehehe... kirain sama siapa Mbak. Biasanya kan’ Mas Jodi yang suka beli sate. Lah kok dari terminal? Emang sekarang kuliah dimana, Mbak Tya? Kemaren saya tanyain noh Mas Jodi-nya, kakaknya sekarang dimana, eh... cuman nyahut dikit...” katanya berceloteh.
“Hahaha... oh gituu Bang... iya soalnya saya kan di Bogor sekarang. Jadi pulangnya agak jarang,”
“Hmm... pantes. Katanya Mas Jodi, kuliah di IPB ya Mbak?”
“Iya, Bang...”
“Enak dong, bisa protes ke Istana Bogor. Emang Mbak gak ikutan demo, kan’ bentar lagi BBM naek,”
“Ckckck, si Abang. Saya tuh ke Bogor bukan buat ikutan demo kayak begituan, Bang. Saya tuh mao nuntut ilmu. Boro-boro mau protes, belajarnya aja masih belum bener,” kataku sambil memainkan pisau satai.
“Yeee... Mbak Tya mah. Kan’ jadi mahasiswa itu bukannya harus kritis, Mbak? Tapi ada benernya juga sih Mbak... kita kan’ kuliah buat ngebanggain orang tua yah. Kalo saya mah terus terang agak beban gara-gara denger BBM naek. Mana UMR-nya gak naik-naik...”
“Hehehe... yaudahlah Bang. Saya sendiri juga bingung mesti gimana. Ya kalo emang itu keputusan yang terbaik, asalkan utang negaranya bisa beneran ke tutup, saya ngedukung aja deh,”
“Hehehe... makanya Mbak, belajarnya yang rajin yak, biar bisa jadi orang DPR. Noh coba aja liat pemerintahan sekarang, kerjaannya korupsi mulu...”
“Iyee aja deh Bang, amien...” ---

Hahaha... well, sejauh ini sih kelihatannya masih lucu untuk direnungkan. Tapi aku masih menunggu pendapat lain yang akan muncul setelah ini. Apakah sebaiknya aku beralih mimpi menjadi seorang pejabat suatu saat nanti? Who knows? ***

No comments:

Post a Comment